Turut berduka cita
Tragis memang, tahun 2005 ini Indonesia dipenuhi oleh berbagai macam musibah. Mulai bencana alam seperti tsunami, tanah longsor, ledakan bom sampai jatuhnya pesawat dan helikopter. Disaat kita menyaksikan beritanya yang sedang tayang di televisi kita ikut berduka, bersimpati atau bahkan tidak perduli toh bukan keluarga kita. Tapi apa kita sadar kalo disaat ada kejadian dan kita hanya bisa berucap syukur karena bukan kita atau keluarga kita yang ada disana atau kita turut memberikan simpati, tetapi dilain waktu bisa saja diri kita yang mengalami. Wallahuallam... semoga kita diberi kekuatan, ketabahan, dan apabila memang sudah waktunya semoga dipanggil dalam keadaan yang lebih baik.
Tanggal 5 September kemarin harusnya jadi hari yang membahagiakan karena itu hari ulang tahunku, ternyata pada hari itu juga terjadi musibah yaitu jatuhnya pesawat mandala di medan. Tanpa terasa air mata ikut menetes ketika menyaksikan tayangan dimana keluarga dan kerabat sangat berduka atas kehilangan orang yang sangat mereka kasihi.
Disitu pula aku ambil sebuah hikmah, bahwa kapanpun itu waktunya kita harus sudah siap. Untuk itu janganlah selalu memikirkan duniawi saja karena lahir, jodoh, rejeki, dan maut sudah diatur-Nya.
Tanggal 5 September kemarin harusnya jadi hari yang membahagiakan karena itu hari ulang tahunku, ternyata pada hari itu juga terjadi musibah yaitu jatuhnya pesawat mandala di medan. Tanpa terasa air mata ikut menetes ketika menyaksikan tayangan dimana keluarga dan kerabat sangat berduka atas kehilangan orang yang sangat mereka kasihi.
Disitu pula aku ambil sebuah hikmah, bahwa kapanpun itu waktunya kita harus sudah siap. Untuk itu janganlah selalu memikirkan duniawi saja karena lahir, jodoh, rejeki, dan maut sudah diatur-Nya.



0 Comments:
Post a Comment
<< Home